WASHINGTON -- Di tengah upaya gencatan senjata di Gaza, Amerika Serikat dan Israel telah menandatangani kesepakatan untuk menghentikan Hamas menyelundupkan senjata ke Gaza.Hal itu merupakan syarat utama yang diajukan Israel untuk menghentikan serangannya terhadap Gaza. Kesepakatan itu ditandatangani di Washington dalam kunjungan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni.Belum banyak rincian yang dikeluarkan namun diperkirakan Washington akan memberikan bantuan logistik dan intelijen kepada Israel.Wartawan BBC di Yerusalem, Jeremy Bowen melaporkan karena Israel memiliki hubungan strategis yang sangat erat dengan Amerika Serikat, kesepakatan ini hanya bersifat simbol politis.Ini merupakan deklarasi bahwa Amerika akan menjadi bagian dari upaya untuk menghentikan penyelundupan senjata ke Gaza bagi Hamas.Artinya, salah satu syarat yang diajukan Israel untuk gencatan senjata telah dipenuhi dan oleh karena itulah Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni memuji nota kesepahaman yang ditandatangani di Washington itu. Livni mengatakan penghentian aksi permusuhan harus diimbangi dengan penghentian penyelundupan senjata ke Gaza.Acara penandatanganan dengan Menteri Luar Negeri Amerika, Condoleezza Rice, juga memberikan kesempatan menguntungkan kepada Livni dalam upayanya menjadi perdana menteri Israel mendatang setelah pemilihan umum kurang dari sebulan.Amerika Serikat berharap gencatan senjata bisa disetujui dalam beberapa hari mendatang. Syarat kunci lain yang diajukan Israel adalah serangan roket Hamas harus dihentikan.Arab PecahPerpecahan di kalangan kepala negara Arab dan muslim soal konflik di Gaza meruncing dalam pertemuan di Qatar. Di forum itu, para pemimpin berhaluan radikal, yang mendukung Hamas, menyerukan diakhirinya upaya berdamai dengan Israel, dan pemberian dukungan kepada perlawanan bersenjata.Pertemuan itu mendengar pidato pantang mundur oleh pemimpin politik Hamas, Khaled Meshaal dan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.Konferensi itu sendiri diboikot oleh sebagai besar negara Arab, termasuk pemimpin Mesir dan Arab Saudi yang pro-Barat dan pemimpin Palestina, Mahmoud Abbas.Wartawan BBC Magdi Abdelhadi melaporkan dari Mesir bahwa pandangan radikal yang dipegang para pemimpin yang bertemu di Qatar bukanlah hal yang baru.Sikap itu merupakan ulangan retorika nasionalis Arab pada tahun 1950-an dan 1960-an, yang bercirikan kecaman terhadap Barat dan penolakan atas negara Israel.Hal yang baru adalah, konflik di Gaza memberi ruang gerak baru bagi suara tak kenal kompromi ini.President Suriah, Bahsar Al Assad, yang menampung beragam kelompok radikal Palestina di Damaskus, mengatakan kepada hadirin bahwa prakarsa damai komprehensif yang disodorkan Liga Arab enam tahun silam, sudah mati, dan mendesak seluruh negara di kawasan agar memutus segala bentuk hubungan dengan Israel.Tidak lama setelah itu, tuan rumah Qatar, satu-satunya negara Teluk yang memiliki hubungan resmi dengan Israel, mengumumkan, akan meminta delegasi dagang Israel angkat kaki dari wilayahnya.Namun, para pemimpin Arab pro-Barat, khususunya yang menjalin traktat perdamian dengan Israel seperti Mesir dan Yordania, tentu risau. - bbc/ahJangan hanya bisikkan cinta di telingaku, tapi tujukanlah dalam hatiku. Jadi bukan hanya kiasan di bibir saja, melainkan benar-benar setulus jiwa.
Jumat, 16 Januari 2009
Israel Dapat Jaminan AS untuk Tekan Hamas
WASHINGTON -- Di tengah upaya gencatan senjata di Gaza, Amerika Serikat dan Israel telah menandatangani kesepakatan untuk menghentikan Hamas menyelundupkan senjata ke Gaza.Hal itu merupakan syarat utama yang diajukan Israel untuk menghentikan serangannya terhadap Gaza. Kesepakatan itu ditandatangani di Washington dalam kunjungan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni.Belum banyak rincian yang dikeluarkan namun diperkirakan Washington akan memberikan bantuan logistik dan intelijen kepada Israel.Wartawan BBC di Yerusalem, Jeremy Bowen melaporkan karena Israel memiliki hubungan strategis yang sangat erat dengan Amerika Serikat, kesepakatan ini hanya bersifat simbol politis.Ini merupakan deklarasi bahwa Amerika akan menjadi bagian dari upaya untuk menghentikan penyelundupan senjata ke Gaza bagi Hamas.Artinya, salah satu syarat yang diajukan Israel untuk gencatan senjata telah dipenuhi dan oleh karena itulah Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni memuji nota kesepahaman yang ditandatangani di Washington itu. Livni mengatakan penghentian aksi permusuhan harus diimbangi dengan penghentian penyelundupan senjata ke Gaza.Acara penandatanganan dengan Menteri Luar Negeri Amerika, Condoleezza Rice, juga memberikan kesempatan menguntungkan kepada Livni dalam upayanya menjadi perdana menteri Israel mendatang setelah pemilihan umum kurang dari sebulan.Amerika Serikat berharap gencatan senjata bisa disetujui dalam beberapa hari mendatang. Syarat kunci lain yang diajukan Israel adalah serangan roket Hamas harus dihentikan.Arab PecahPerpecahan di kalangan kepala negara Arab dan muslim soal konflik di Gaza meruncing dalam pertemuan di Qatar. Di forum itu, para pemimpin berhaluan radikal, yang mendukung Hamas, menyerukan diakhirinya upaya berdamai dengan Israel, dan pemberian dukungan kepada perlawanan bersenjata.Pertemuan itu mendengar pidato pantang mundur oleh pemimpin politik Hamas, Khaled Meshaal dan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.Konferensi itu sendiri diboikot oleh sebagai besar negara Arab, termasuk pemimpin Mesir dan Arab Saudi yang pro-Barat dan pemimpin Palestina, Mahmoud Abbas.Wartawan BBC Magdi Abdelhadi melaporkan dari Mesir bahwa pandangan radikal yang dipegang para pemimpin yang bertemu di Qatar bukanlah hal yang baru.Sikap itu merupakan ulangan retorika nasionalis Arab pada tahun 1950-an dan 1960-an, yang bercirikan kecaman terhadap Barat dan penolakan atas negara Israel.Hal yang baru adalah, konflik di Gaza memberi ruang gerak baru bagi suara tak kenal kompromi ini.President Suriah, Bahsar Al Assad, yang menampung beragam kelompok radikal Palestina di Damaskus, mengatakan kepada hadirin bahwa prakarsa damai komprehensif yang disodorkan Liga Arab enam tahun silam, sudah mati, dan mendesak seluruh negara di kawasan agar memutus segala bentuk hubungan dengan Israel.Tidak lama setelah itu, tuan rumah Qatar, satu-satunya negara Teluk yang memiliki hubungan resmi dengan Israel, mengumumkan, akan meminta delegasi dagang Israel angkat kaki dari wilayahnya.Namun, para pemimpin Arab pro-Barat, khususunya yang menjalin traktat perdamian dengan Israel seperti Mesir dan Yordania, tentu risau. - bbc/ah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar